Rama dan Ratih

Rama masih berdiri disana, di depan kamar Ratih. Hatinya masih ragu untuk masuk ke kamar itu, tapi kakinya terus melangkah masuk membawanya kesana. Di dalam, Rama melihat sekeliling kamar Ratih. Tak ada yang berubah. Semua letak barangnya masih sama, sama seperti terakhir kali Rama membantu Ratih untuk menyusun ulang kamarnya. Rama tak bias menahan perasaanya, ia ingin sekali pergi keluar. Tapi niatnya terhenti saat melihat buku-buku Ratih yang tersusun rapi di rak kayu. Semuannya adalah buku cerita, ia tahu Ratih sangat suka membaca cerita dan ingat kembali akan kenangannya dulu saat pertama bertemu Ratih, itu pun karena buku cerita.

Rama yang masih muda, saat itu kelas 3 SMA pergi ke toko buku bersama teman-temannya yang lain dan mereka sibuk mencari-cari buku disana. Rama termasuk murid yang pintar diantara murid-murid pintar lain di kelasnya. Rama bersekolah di sekolah yang saat itu sangat terkenal akan kumpulan murid-muridnya yang pintar dan berbakat. Rama termasuk orang yang mempunyai nasib mujur, selain pintar ia juga terlahir dari keluarga yang kaya. Ayahnya adalah seorang arsitek hebat dan terkenal. Walaupun kaya, akan tetapi Ayah Rama adalah orang yang dermawan, ayahnya selalu memberi kepada orang yang membutuhkan dan membuka panti asuhan untuk anak-anak yang tidak beruntung. Karena itu, meskipun kaya, Rama selalu berpenampilan sederhana, karena itu yang selalu ditanamkan oleh ayahnya. Rama pun memiliki sifat yang sama seperti ayahnya, dermawan. Ia senang saat berbagi kepada orang lain.

Kembali ke Rama yang saat itu sibuk sedang mencari buku. Sesaat pandanganya tertuju pada seorang gadis diluar toko buku. Gadis itu sedang minum di coffee shop disebelah toko buku sambil membaca buku dengan seriusnya. Gadis itu memang cantik, kulitnya putih dan penampilannya menarik menuruti trend remaja di zamannya. Saat itu memang masa puber untuk Rama, lama ia memandang kearah gadis tersebut dan memang ada sedikit rasa ketertarikannya. Setelah selesai membeli buku, ia diajak makan siang oleh teman-temannya tapi Rama menolak karena dia ingat akan gadis tadi, dia ingin menyapa dan mengenal gadis itu. Rama pergi ke tempat gadis tersebut, sampai disana dia sedikit khawatir tidak bias menemukan gadis itu. Tapi rasa khawatir itu lenyap, ternyata gadis itu masih disana, dan masih membaca buku.

Rama membeli kopi capucino dan menghampiri meja gadis itu dan ingin duduk disana. Semakin dekat dengan gadis itu, Rama melihat hal aneh dengan gadis tersebut. Raut mukanya sendu dan tak lama gadis itu mulai menagis. Rama ragu untuk mendekati gadis tersebut, tapi ia terus berjalan sampai di depan meja gadis tersebut. Dia sedikit bingung, apa yang harus dilakukannya. Tapi tangannya reflex mengambil saputangan dikantongnya dan memberikan kepada gadis itu. Ibunya selalu memberikan Rama saputangan, itu kebiasaan ibunya dari dulu. Walau tak digunakan untuk Rama tapi ibunya selalu memberikannya.

Dari tadi gadis itu tidak memperhatikan bahwa ada seseorang yang berdiri didepannya saking seriusnya membaca apalagi saat itu ceritanya sedang seru karena pemeran pria dalam cerita yang ia baca meninggal karena tabrakan. Tapi keseriusannya buyar karena ia melihat saputangan yang disodorkan seseorang padanya. Gadis itu nampak bingung. Rama pun bingung, ia tak tahu apa yang harus dikatakan kepada gadis itu. Mereka saling bertatapan tanpa bicara dan akhirnya gadis itu mengambil saputangan Rama dan mengusapkan air matanya. Tanpa bicara Rama langsung duduk di samping gadis itu.

“ceritanya sedih?” Tanya Rama pada gadis itu.

Dan gadis itu menjawab dengan anggukan kepala, ia masih merasa sedih akan cerita yang ia baca. “sebenernya aku paling ga suka baca cerita seperti ini. Kenapa Dion harus mati? Kenapa ga happy ending saja, itu kan lebih bagus. Dion akhirnya menikah dengan Rose dan hidup bahagia mereka punya anak yang banyak dan bahagia sampai tua. Aku kesal pada penulisnya, kenapa akhirnya harus dibuat seperti ini…”

Gadis itu bicara dengan suara serak, Rama hanya tersenyum melihat gadis itu dan terus memandangnya. Akhirnya gadis itu berhenti bicara dan melihat kearah Rama yang dari tadi tersenyum melihatnya. “ga semua cerita berakhir dengan bahagia, mungkin memang mereka berjodoh, tapi mereka tidak bias bersama untuk dikehidupan saat ini. Mungkin mereka bias bersama di kehidupan berikutnya” kata Rama pada gadis tersebut.

“bisakah seperti itu?” Tanya gadis itu

“mungkin”

“semoga mereka bias bersama dikehidupan berikutnya” kata gadis itu. Dan Rama tersenyum lagi. Wajah gadis itu kembali ceria dan membuka buku lagi, ingin melanjutkan membaca tapi berhenti ketika dia sadar kembali kalau ada orang disampingnya yang terus melihatnya.

“nama kamu siapa?” Tanya Rama mendahului

“Ratih. Kamu?” kata gadis itu sambil menutup bukunya

“Rama” jawab Rama pendek. Rama agak kikuk tak pernah ia melakukan hal ini sebelumnya, berkenalan dengan seorang wanita yang menarik baginya. Ini pertama kalinya bagi Rama. Tapi rasa kikuk itu hilang, karena gadis itu ternyata ramah dan supel. Rama senang bias berkenalan dengan Ratih dan dari hari itu mereka mulai dekat. Dari teman sampai akhirnya Rama dan Ratih berpacaran. Ratih menyukai Rama karena kesederhanaannya dan kepeduliannya kepada orang lain yang membutuhkan. Ratih tak pernah menemui orang seperti Rama sebelumnya dan ia juga senang bias dekat dengan Rama.

Rama dan Ratih sering belajar bersama. Orang tua Rama senang Ratih sering-sering dating kerumah mereka. Karena mereka tidak mempunyai anak perempuan, dua orang anak laki-laki Bagas dan Rama. Mereka sudah menganggap Ratih seperti anak sendiri dan senang saat mengetahui bahwa Rama dan Ratih sudah berpacaran. Bukan hanya orang tua Rama, orang tua Ratih pun dekat dengan Rama. Para orang tua bahkan sudah merencanakan pernikahan mereka kelak.

Ratih dua tahun lebih muda dari pada Rama. Tapi meskipun lebih muda, sifatnya lebih dewasa dari usianya mungkin itu karena Ratih adalah anak pertama di keluarganya. Tapi hanya kepada Rama ia bersifat kekanak-kanakan. Ratih selalu suka saat-saat ia merengek kepada Rama dan membujuknya melakukan hal-hal yang Ratih inginkan dan Rama dengan senang melakukan hal yang Ratih inginkan. Mereka berdua bagitu dekat, bahkan Rama lebih dekat kepada Ratih dari pada Bagas,kakaknya. Semua rahasia mereka tak ada yang disembunyikan, mulai dari tempat persembunyian surat-surat cinta Rama dikamar Ratih yang Ratih sembunyikan dari adik-adiknya sampai rahasia Rama yang selalu diam-diam membuang sayur bayam yang dimasak ibunya tanpa diketahui oleh siapapun juga dan tak ada orang lain yang tahu rahasia itu, hanya Ratih yang tahu.

Setelah Rama lulus, ia melanjutkan kuliah di Universiras negeri dan mengambil jurusan arsitekur. Ia ingin menjadi seperti ayahnya kelak, dan Ratih sangat mendukung hal tersebut. Bahkan Ratih meminta Rama mendesain rumah untuk mereka kelak. Rama tinggal di rumah kontrakan dekat kampusnya, karena rumah dan kampus Rama letaknya jauh dan capek kalau harus setiap hari pulang pergi dari rumahnya ke kampus. Meskipun begitu, setiap hari minggu Rama selalu dating ke rumah dan pergi bersama Ratih jalan-jalan atau sekedar bicara dan bercanda bersama. Begitu seterusnya, tak pernah satu hari minggu pun terlewatkan Rama untuk pulang dan bertemu Ratih.

Sampai pada suatu hari saat Ratih lulus SMA dan mengatakan pada Rama bahwa ia ingin melanjutkan kuliah di luar negeri. Rama bingung di satu sisi ia tak mengijinkan Ratih pergi kuliah keluar negeri tapi di sisi lain Rama pun setuju dengan Ratih. Karena kuliah disana lebih bagus untuk jurusan yang ia ambil, desain grafis. Dan akhirnya Rama menyetujui keinginan Ratih. Empat tahun mereka berpisah. Walaupun jauh, tapi mereka selalu berbagi cerita mengenai keadaan mereka lewat telpon atau email. Rama sudah menjadi orang yang sukses. Ia tak mau dibayang-bayangi kehebatan dan kepopuleran ayahnya sebagai seorang arsitek, ia berusaha sendiri membagun kariernya sebagai arsitek, tak mudah memang. tapi ia selalu berusaha.

Rama mendapat kabar bahwa dua hari lagi Ratih akan pulang. Ratih sudah lulus kuliah, tapi karena ada kerjaan yang tak bias ditinggalkan, Rama tak bias melihat Ratih saat kelulusannya dan Ratih pun memaklumi keadaan Rama. Rama sudah tak sabar ingin bertemu Ratih, bahkan ia tak bias tidur karena merencanakan hal-hal yang ia ingin lakukan saat bersama Ratih dan diam-diam ia sudah merencanakan pernikahan mereka dan membicarakannya kepada orang tua Rama. Ratih memang jarang pulang walau liburan karena banyak hal yang harus dikerjakannya. Hanya dua kali Ratih pulang untuk liburan dan itu pun tidak untuk waktu yang lama.

Rama menjemput Ratih dibandara. Tak ada yang berbeda memang dari diri Ratih hanya ia terlihat lebih kurus dari hari terakhir Rama melihatnya. Mereka berpelukan, melepaskan rasa rindu dan mereka pulang. Rama sudah tidak sabar ingin mengatakan pada Ratih, bahwa ia ingin menikahinya dan hidup bersamanya. Keesokan harinya Rama pergi kerumah Ratih, ia masih tidur dan ibu Ratih mengizinkan Rama masuk untuk membangunkannya.

“hei.. pemalas, ayo bangun. Ga ada orang yang masih tidur jam segini” Rama membangunkan Ratih. Memang hari itu sudah terlalu siang, jam 1 siang. Ratih hanya tersenyum saat melihat Rama.

“senang bias melihatmu” kata Ratih dan Rama hanya tertawa mendengar kata itu. Rama meminta Ratih bangun dan mandi karena ia ingin pergi keluar bersamanya. Rama mengajak Ratih makan siang dan setelah itu mengajaknya jalan-jalan ke taman kota. Disana Rama mengatakan ingin menikahi Ratih dan memberikan cincin sebagai tanda bukti keseriusannya.

“maaf Rama, aku tak bias” kata Ratih dan menolak cincin yang diberikan Rama.

“kenapa? Apa sudah ada laki-laki lain? jadi selama di luar negeri….”

“bukan, bukan itu.” Potong Ratih “ tak ada laki-laki lain, hanya kamu. Tapi aku tak bias menikah denganmu. Kumohon mengertilah” kata Ratih

“baik, mungkin ini terlalu cepat. Aku akan menunggu” Rama menjawab

“aku tidak bias menikah denganmu selamanya dan aku tak ingin kamu menungguku” Rama semakin tak mengerti dengan kata-kata Ratih. Mereka bertengkar saat itu, Rama yakin Ratih sudah memiliki laki-laki lain. Dalam suatu hubungan pasti ada pertengkaran, mereka pun begitu sebelumnya, tapi tak pernah seperti ini. Sudah dua minggu Ratih tidak menghubungi Rama begitu pun Rama. Orang tua mereka heran dan berusaha membujuk anaknya masing-masing. Tapi tak ada perubahan.

Ratih pergi kerumah bibinya dan meminta keluarganya tidak memberi tahu Rama. Ratih bilang, ia ingin menenangkan diri disana dan orang tuanya mengijinkan. Masih tak ada kabar, sampai satu bulan kemudian. Rama pun tak menghubungi Ratih, pekerjaannya banyak dan ia pun marah terhadap sikap Ratih. Ia merasa Ratih sudah berubah. Sampai hari itu, Rama mendapat telpon dari ibu Ratih dan meminta Rama kuat dan tabah. Rama tak mengerti akan maksud ibu Ratih.

“Ratih meninggal tadi pagi..” kata ibu Ratih. Rama tak percaya dan mengatakan bahwa ibu Ratih hanya bercanda kepadanya, hal itu tidak mungkin terjadi. Bukankah Ratih sehat-sehat saja. Ibu Ratih berusaha menjelaskan, tapi Rama masih tidak percaya. Ia lalu minta Rama untuk dating kerumahnya. Di jalan Rama tidak bias menguasai dirinya, antara percaya dan tidak percaya. Ia hampir saja menabrak bapak-bapak penjual bakso karena melamun, tapi ia untung masih selamat, bapak dagang bakso pun begitu. Ia meminta maaf kepada bapak tersebut dan segera pergi.

Sampai di depan rumah Ratih, ia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Orang-orang sudah banyak berdatangan dan wajah mereka semua sedih, ia juga melihat ayah, ibu dan kakaknya sudah ada diasana. Rama masih tidak percaya, ia mengatakan pada mereka bahwa ini semua adalah rencana Ratih untuk mengerjainya.

“Ratih ingin mengerjai Rama, kan?” kata Rama pada ibunya

“Rama. Ibu mohon jangan seper…” kata-kata ibunya terpotong karena Rama segera masuk ke rumah dan melihat Ratih tertidur tenang. Rama mendekati Ratih, dan mengelus kepalanya.

“ini sama sekali ga lucu, aku mengaku salah, aku minta maaf. Jadi kumohon bangunlah sekarang. Ratih, ayo bangun, kumohon.” Kata Rama, ia masih mengelus kepala Ratih, ia melihat Ratih benar-benar tak bernafas dan ia pun merasakan kulit wajah Ratih dingin. Rama tak sadarkan diri, ia pingsan. Dan orang-orang mengangkatnya dan mencoba menyadarkannya. Tapi ia tak sadar, dan akhirnya dia di bawa ke rumah sakit.

Dua hari berlalu, Rama bangun dan mendapati dirinya dirumah sakit. Ibu tertidur di samping ranjangnya. Ia teringat akan Ratih dan mencoba bangun. Ia ingin pergi menemui Ratih. Bagas yang melihatnya, melarangnya untuk pergi. Dan meminta Rama untuk beristirahat lagi karena keadaannya masih kurang baik.

“istirahat kak? Ia, mungkin aku harus istirahat. Istirahat selamanya.” kata Rama. Bagas yang mendengar kata-kata itu marah dan menampar pipi adiknya. Tak pernah sekalipun Bagas melakukan itu kepada Rama. Rama diam dan terus diam. Pikirannya jauh entah kemana dan sorot matanya kosong. Ia seperti itu terus selama tiga hari, ia sadar, bangun, tetapi seperti orang mati. Makanpun tidak, hanya mengandalkan infuse. Ibu dan ayahnya sedih, terlebih lagi kakaknya.

Saat malam, Rama bermimpi. Ia menemui Ratih di kamarnya. Ratih tersenyum melihat Rama dating dan menggandeng tangan Rama mengajaknya melihat tempat ia menyembunyikan surat-surat cinta Rama. Ratih tersenyum, senyum yang paling indah yang pernah dilihat Rama.

“kumohon jangan seperti ini, berjanjilah padaku, kamu akan hidup bahagia selamanya.” Kata Ratih. Rama tidak bias menjawab, ia ingin mengatakan sesuatu kepada Ratih tapi mulutnya tidak bias bicara. Ia terus mencoba, tetapi tak bias. Dan akhirnya Ratih menghilang saat tirai kamarnya terbuka dan memantulkan cahaya yang sangat menyilaukan.

“kumohon berjanjilah padaku kau akan hidup bahagia selamanya.” Lagi terdengar suara Ratih dan ia terbangun dari tidurnya. Rama menangis dan menyebutkan kata Ratih terus. Ibunya terbangun dan menangis melihat anaknya seperti itu. Rama teringat akan kata-kata Ratih untuk berjanji padanya akan bahagia selamanya, hal itu membuat Rama semakin sesak.

“bagaimana aku bias bahagia, tanpa dirimu Ratih.” Rama berkata pelan dan terdiam kembali. Kali ini ia terdiam, tapi sorot matanya tidak kosong. Ia memikirkan kata-kata yang diucapkan Ratih dan tidak tertidur sampai pagi. Keesokannya Rama minta untuk pulang dan ia ingin mengunjungi makam Ratih. Ibunya sedikit khawatir dan meminta Bagas untuk ikut menemani Rama pergi.

Di pemakaman Rama hanya diam. Bagas menemaninya dan berdiri dibelakang. Ia masih belum mengerti yang dimaksudkan Ratih yang memintanya berjanji untuk hidup bahagia selamanya. Setelah dari pemakaman, Rama pergi mengunjungi rumah Ratih. Ia meminta kakaknya menunggu, karena ia ingin melihat kamar Ratih. Rama masih berdiri disana, di depan kamar Ratih. Hatinya masih ragu untuk masuk ke kamar itu, tapi kakinya terus melangkah masuk membawanya kesana. Di dalam, Rama melihat sekeliling kamar Ratih. Tak ada yang berubah. Semua letak barangnya masih sama, sama seperti terakhir kali Rama membantu Ratih untuk menyusun ulang kamarnya. Rama tak bias menahan perasaanya, ia ingin sekali pergi keluar. Tapi niatnya terhenti saat melihat buku-buku Ratih yang tersusun rapi di rak kayu. Semuannya adalah buku cerita. Ia teringat akan kejadian pertama kali ia bertemu Ratih sampai pada hari ini.

Di rak buku itu, ada satu celah dan terdapat kotak besar. Disanalah Ratih menyembunyikan surat-surat cinta Rama. Rama teringat akan mimpinya bertemu Ratih.  Rama membuka kotak tersebut. Ia membaca surat-surat lama yang ia berikan kepada Ratih, ia tersenyum membaca surat-surat tersebut. Dibawah tumpukan surat-surat itu ada amplop coklat besar. Rama penasaran akan isinya, ia membukanya. Ternyata isinya adalah hasil rontgen Ratih. Dan beberapa surat-surat yang menyatakan Ratih mengidap penyakit kanker otak dan meminta Ratih segera melakukan operasi.

Rama tak tahu Ratih mengidap penyakit tersebut dan Ratih tidak pernah mengatakan padanya. Rama marah, tapi tak tahu harus marah kepada siapa. Marah kepada Ratih yang sudah meninggal dan tidak akan pernah mengatakan kepadanya atau marah kepada dirinya sendiri karena tak bias menjaga Ratih dengan baik. Ia tak tahan lagi, Rama ingin keluar dari kamar itu. tapi langkahnya kembali terhenti saat melihat amplop berwarna pink dan bertuliskan untuk Rama yang ada di atas meja belajar Ratih. Rama membuka dan duduk di meja tersebut sambil membaca surat di dalam amplop itu.

                   Hai Rama,

                  Aku senang kau membaca surat ini, karena ini surat pertama dan mungkin ini adalah suratku yang terakhir untukmu. Aku tak pernah membalas surat-surat cintamu. Kamu pasti sudah tahu. Aku tak bias membuat kata-kata manis sepertimu. Tapi terimakasi sudah hadir dalam hidupku. Terimakasi sudah mengisi hari-hariku. Terimakasi sudah menjadi teman, kakak, dan pacar yang paling baik untukku. Tak pernah aku bertemu laki-laki sepertimu, hanya kamu seorang tak pernah ada dan tak pernah bias ada orang yang menggantikanmu. Aku senang, bahkan begitu sangat senang bias bertemu dan mengenalmu. Apa kau tahu itu?

                 Maaf, aku terpaksa harus merahasiakan keadaanku. Kata dokter, aku mempunyai penyakit kanker otak. Aku selalu merahasiakan ini, bahkan ibu dan ayah dan siapapun tak ada yang tahu. Hanya aku, tuhan dan dokter saja yang mengetahuinya. Maafkan aku karena merahasiakan hal ini darimu. Selama aku bersamamu, aku selalu menahan rasa sakit ini. Tak pernah sekalipun mengeluh dan aku tak berani memeriksakannya, aku takut, sangat takut. Sampai pada hari itu aku pingsan dan dibawa oleh teman-teman kampusku kerumah sakit. Dokter bilang penyakitku sudah parah, mereka memintaku melakukan operasi. Jujur, aku tak mau, aku takut melakukan operasi.

                     Kamu pasti sangat tahu, aku takut dengan alat-alat rumah sakit. Aku berusaha untuk menahan rasa sakit ini, sebisaku. Tapi aku tahu, umur ku tak akan lama lagi. Maaf karena aku seperti ini. Aku ingin pulang dan selalu bersamamu, menghabiskan semua waktuku denganmu. Dan sampai pada saat kau melamarku, saat itu aku sungguh bahagia, aku ingin mengatakan bahwa aku ingin menikah denganmu dan hidup bahagia bersamamu. Tapi aku teringat akan keadaanku yang  seperti ini. Aku berubah pikiran, aku tak ingin kamu merasa sedih nantinya karena menikah dan kemudian  kehilanganku. Aku merasa akan lebih baik bila seperti ini.

                   Aku pergi kerumah bibi dan tidak memberitahumu, aku ingin sendiri. Disini aku teringat akan kenangan kita saat pertama bertemu. Kau pernah bilang padaku bahwa orang dalam cerita yang aku baca, mungkin mereka berjodoh, tapi mereka tidak bias bersama untuk dikehidupan saat ini dan mungkin mereka bias bersama di kehidupan berikutnya. Apa kamu ingat itu?

                        Aku ingin, walaupun di kehidupan ini kita tidak bias bersama, tapi berjanjilah padaku kamu akan hidup bahagia di kehidupan ini, karena kamu beruntung masih bias hidup dan sehat. Aku mohon berjanjilah padaku dan mungkin kita akan hidup bahagia selamanya sampai tua di kehidupan berikutnya. Benarkan seperti itu?

                         Jadi kumohon, tersenyumlah. Dan jalani hidupmu dengan baik dikehidupan ini, agar dikehidupan mendatang kita bias bertemu lagi dan bahagia selamanya.

Ratih

Rama tak dapat menahan air matanya. Tapi kemudian ia berhenti dan menghapus air matanya. Dia berfikir dengan menangisi Ratih sekarang tak aka nada gunanya, tak akan bias membuatnya kembali. Dan Ratih akan sedih disana melihatnya seperti ini. Dan mungkin dengan merelakannya pergi, akan membuatnya bahagia, Ratih tidak akan merasakan sakit lagi karena kankernya itu. Rama bangun dari kursi dan menuju keluar dia menutup pintu kamar Ratih. Dan pergi bersama kakaknya. Dia akan menuruti permintaan Ratih untuk menjalani hidupnya dan hidup bahagia selamanya demi Ratih.

SELESAI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s